Wawancara kerja massal di propinsi Saga
Kondisi ekonomi yang memburuk membuat tingkat penerimaan kerja bagi lulusan SMA di propinsi Saga menurun. Kondisi ekonomi yang seperti ini membuat banyak perusahaan yang menurunkan jumlah tenaga kerja baru untuk mengatasi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang. Di akhir bulan September 2009 kemarin, ada kekhawatiran sekitar 60% lulusan SMA tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah propinsi Saga bekerja sama dengan Departemen Tenaga Kerja Jepang mengadakan wawancara massal bersama bagi lulusan SMA pada tanggal 25 November 2009. Wawancara kerja massal seperti ini terakhir dilakukan 2 tahun yang lalu.
Wawancara kerja massal diadakan di gedung pernikahan Maritopia di Saga. Wawancara kerja massal ini diikuti oleh 48 perusahaan manufaktur dan ritel yang sebagian besar berasal dari propinsi Saga dan dihadiri oleh sekitar 260 lulusan SMA yang belum mendapatkan pekerjaan.
Seorang lulusan SMA yang tertarik bekerja di perusahaan manufaktur telah ditolak bekerja oleh sebuah perusahaan baja di propinsi Hyogo. “Pilihan terakhir adalah melanjutkan sekolah di sekolah kejuruan, namun saya tidak ingin menambah beban bagi orang tua saya.” Ia bertekad untuk melamar pekerjaan sampai akhir tahun 2009 ini. Di wawancara kerja massal itu, ia diwawancara oleh 4 perusahaan.
Menurut survei Departemen Tenaga Kerja propinsi Saga, pada akhir bulan September 2009, rasio penerimaan kerja bagi lulusan SMA yang akan lulus di musim semi tahun 2010 baru mencapai 39,7%, turun 13,2 poin dari tahun 2009. Tingkat penurunan ini terbesar setelah tahun 1995. Menurut Departemen Tenaga Kerja propinsi Saga, ini adalah dampak dari penurunan permintaan tenaga kerja yang berasal dari propinsi lain, seperti propinsi Fukuoka dan daerah Chukyo.
Pendaftaran perusahaan yang ingin mengikuti wawancara kerja massal yang diadakan pada hari itu diterima sampai dengan tanggal 13 November 2009 yang lalu. Namun dari target 50 perusahaan yang mengikuti wawancara kerja massal ini, sampai pendaftaran ditutup hanya mencapai 48 perusahaan.
Kesulitan yang sama juga dialami oleh pihak sekolah. Sekolah kejuruan Tosu mengajukan permohonan penyaluran lulusan sekolah mereka sebagai tenaga kerja untuk kedua kalinya kepada 100 perusahaan lebih, namun yang menerima hanya 2 – 3 perusahaan. Saat ini sekolah kejuruan Tosu hanya bisa menunggu informasi dari perusahaan-perusahaan tersebut. Di sekolah kejuruan Saga, jumlah permintaan tenaga kerja bagi lulusan sekolah mereka turun 40% dibandingkan tahun 2009, sehingga banyak siswa mereka yang mulai menyerah dan jumlah siswa yang mengajukan permohonan mencari kerja turun lebih dari 40 siswa. Siswa yang mengajukan permohonan mencari kerja pun memperluas bidang kerja yang mereka inginkan agar peluang mendapat pekerjaan mereka menjadi lebih besar. Sebisa mungkin mereka ingin mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keahlian mereka, namun dengan kondisi saat ini sangat sulit untuk didapatkan.
Menurut laporan ekonomi bulan November 2009 dari Pemerintah Jepang, kondisi perekenomian dunia yang mulai membaik akan terus berlanjut. Beberapa perusahaan manufaktur di propinsi Saga pun sudah mulai mengalami peningkatan produksi. Tetapi menurut perusahaan manufaktur mobil di propinsi Saga peningkatan produksi ini diperkirakan hanya sementara waktu saja karena ada penurunan pajak. Setelah musim semi tahun 2010 keadaannya masih belum pasti. Ini menyebabkan peningkatan jumlah tenaga kerja masih dipikirkan secara hati-hati.
Menurut Hirachi Ichiro, dosen ekonomi Universitas Saga, bagi lulusan baru tidak ada jaminan akan kehilangan pekerjaan. Hal ini memperburuk keadaan mereka. Saat ini banyak perusahaan yang menurunkan biaya kesejahteraan pekerja sehingga banyak perusahaan yang menerima pekerja kontrak. Peningkatan permintaan pekerja tetap bagi lulusan SMA masih membutuhkan waktu yang lama.
Sumber:
http://www.nishinippon.co.jp/nnp/item/136790









[...] [...]
Leave your response!